Jam di dinding sebelah timur tembok kamarku
menunjukkan pukul tujuh lewatnya dari jam tujuh. Seperti pagi2 yang lain, aku berkewajiban
melahap seluruh buku yang sepantasnya aku lahap. Ya … seperti itulah
pekerjaanku jika ujian tengah melanda dunia intelekku. Begitulah semestinya
seorang maha-siswa mengarungi hari2nya dikala UAS menyapanya. Berbuat yang
terbaik dalam menjalani hidupmu saat ini adalah jalan tempuh terbaik mengarungi
panjangnya hidup yang hanya sementara.
Aku tidak sendiri diruang kamarku
yang terasa seperti surga keduaku setelah “rumahku adalah surgaku”. Aku
bersanding dengan kakak sepupuku yang cantik dan baik. Cantik hatinya dan baik
perilakunya. Entah darimana aku memandang semua itu, yang pasti hatiku yang
terdalam mengatakan itu. Dan aku percaya hatiku tak pernah salah. Si kecil di
lubuk sana, entah dimana, yang sepertinya tak bermakna, namun sangat berharga.
Itulah hatimu yang selalu menjagamu dari keburukan dunia.
Tok.. tok.. tok
Dalam waktu
hampir bersamaan, aku dan kakakku tersentak oleh bunyi itu. Entahlah
karena daya konsentrasi kita terlalu
tinggi atau karena kerasnya suara itu. Dalam waktu yang bersamaan pula kita
menengok kepintu dan sepontan menjawab “siapa? silahkan masuk, pintu tidak
dikunci”. Jangan heran kenapa bisa kata2 kita sama dan dalam waktu yang sama.
Sejak kecil kami bersama hingga kini usia kepala dua.
Seorang wanita yang tak berbeda jauh
usianya dari kami pun masuk begitu mendengar kami mempersilahkannya masuk. Dia
tak asing lagi bagi mata kami. Awa, begitu dia biasa dipanggil teman satu kos.
Teman yang baik dan keibuan. Sebelum aku sempat berkata-kata, kakakku telah
lebih dulu bertanya, “ada apa kamu pagi2 sudah bertamu” kakakku bertanya sambil
bergurau. Awa menjawab dengan senyum manis tersungging di sudut bibirnya, “aku
ada perlu sama Kuna”… begitulah salah satu panggilan sayang yang tersemat
untukku dari saudara2ku terkasih di surga keduaku ini.
Awa
pun menyampaikan maksud kunjungannya pagi itu. Intinya laptop tercintanya agak
sedikit eror dan dia minta aku membantunya mencarikan orang yang bisa
menyembuhkan beberapa penyakitnya. Perjanjian pun kita sepakati untuk mencoba
datang ke kos temanku malam nanti.
***
Waktu menunjukan pukul 19.30. Sesuai
janji yang telah aku buat dengan Awa dan juga temanku, maka aku dan Awa pun segera
bergegas ke kos temanku. Sesampainya ditengah jalan, aku dan Awa bertemu
temanku, ternyata dia sedang menunggu temannya.
Teman,,,yaaa,,,teman,,,begitulah dia berkata padaku. Aku mencoba
mempercayainya, karena aku rasa tidak ada hak aku bertanya banyak dan
mencurigainya. Dia menyuruh kami pergi kekosnya terlebih dahulu…. Begitulah Rasa
itu mulai berdatangan….. (T’
sanggup jemariku merempungkannya)
Dan
kini rasa itu tlah sirna bersama kepergiannya dg sejuta tanya……
#Qnan_Mendoan City_200110
Tidak ada komentar:
Posting Komentar